Tuesday, 18 October 2016

Praktikum Fisika Dasar Resonansi

Jurnal Praktikum fisdas Resonansi


BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang
            Resonansi adalah peristiwa ikut bergetarnya suatu benda akibat getaran benda lain. Adanya peristiwa resonansi yang terjadi dalam kehidupan sehari- hari seperti dua garpu tala yang mempunyai bilangan getar atau frekuensi yang sama bila garpu tala yang satu digetarkan/dibunyikan maka garpu tala yang lainnya akan ikut bergetar/berbunyi, mendorong kita untuk melakukan percobaan ini agar dapat memahami lebih lanjut tentang peristiwa resonansi.

I.2. Tujuan Percobaan
            Percobaan ini bertujuan :
1.      Menentukan kecepatan suara di udara.
2.      Menera bilangan getar garpu tala.

I.3. Permasalahan
            Permasalahan yang dihadapi dalam percobaan ini adalah :
·         Bagaimana menentukan  nilai V (kecepatan suara di udara) dari  m (bilangan resonansi) dan f (frekuensi garpu tala) yang telah diketahui dan L’ (panjang kolom udara sebenarnya) yang  telah diukur serta menentukan nilai e. 
·         Bagaimana menentukan nilai f (frekuensi garpu tala) dari V (kecepatan suara di udara) dan m (bilangan resonansi) yang telah diketahui dan L’ (panjang kolom udara sebenarnya) yang telah diukur serta menentukan nilai e.

I.4. Sistematika Laporan
            Laporan ini disusun secara sistematis berdasarkan petunjuk yang telah ada, yaitu meliputi : abstrak, daftar isi, daftar tabel, daftar grafik, daftar gambar, Bab I Pendahuluan yang terdiri atas latar belakang, tujuan percobaan, permasalahan, sistematika laporan, Bab II Dasar Teori yang terdiri atas teori – teori yang mendasari dilakukannya percobaan dan penulisan laporan, Bab III Analisa Data dan Pembahasan, Bab V Kesimpulan yang berisi kesimpulan dari laporan berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, daftar pustaka, dan lampiran.
 BAB II
DASAR TEORI 
            Resonansi merupakan suatu fenomena dimana sebuah sistem yang bergetar dengan amplitudo yang maksimum akibat adanya impuls gaya yang berubah – ubah yang bekerja pada impuls tersebut. Kondisi seperti ini dapat terjadi bila frekuensi gaya yang bekerja tersebut berimpit atau sama dengan frekuensi getar yang tidak diredamkan dari sistem tersebut.
            Banyak contoh dari peristiwa resonansi yang dihadapi dalam kehidupan sehari – hari, antara lain : bila berdekatan dengan sebuah gelas dan dibangkitkan suatu nada ( frekuensi ) yang besarnya sama dengan frekuensi alam gelas itu sendiri maka gelas itu akan  bergetar ( berbunyi) sekeras – kerasnya. Bila nada ( frekuensi ) tadi dibunyikan cukup keras dan secara terus – menerus maka getar gelas akan semakin diperkeras sehingga gelas dapat pecah. Dengan suara, orang dapat menghancurkan suatu benda. Juga peristiwa keruntuhan pesawat terbang yang kecepatannya mendekati kecepatan menjalar bumi berdasar atas peristiwa resonansi. Getar pesawat yang disebabkan oleh gerak mesin – mesinnya yang diteruskan pada udara sebagai bunyi, tidak dapat dengan cepat ditinggalkan ( atau meninggalkan ) pesawat terbang karena kecepatan pesawat terbang tidak berbeda banyak dengan keepatan menjalar bumi. Akibatnya ialah getar badan pesawat terbang diperkeras dengan cepat sekali sehingga pesawat terbang runtuh karena hal tersebut. Dengan kecepatan agak di atas kecepatan menjalar bumi, pesawat terbang dapat terbang dengan selamat ( Supersonic Flight ).
Contoh peristiwa resonansi lainnya ialah bila suatu garpu tala ( sumber getar ) digetarkan di dekat suatu kolom udara yang salah satu ujungnya tertutup sedangkan ujung yang lain terbuka akan terjadi resonansi bila : ( lihat gambar 2.2 )

        L = ( 2m + 1 )  / 4          
                                         
Dimana   l    =  V / f , maka : L = ( 2m + 1 ) / 4f
Dimana :
                 L    =  panjang kolom udara
                 m   = bilangan resonansi ( 0,1,2,3,……….)           
                f     = frekuensi garpu tala
                l    = panjang gelombang
                V   = kecepatan suara di udara






DAFTAR PUSTAKA
1.      Dr.G.C.Gerrits dan Ir. Soemani.S.Soerjohoedojo; Buku Peladjaran Ilmu      Alam; jilid 2; pnerbit J.B.Wolters; Jakarta; 1953.
2.      Halliday dan Resnick; Fisika; Edisi ketiga; Penerbit Erlangga;Jakarta; 1978.
   3.      Sears, Zemansky; Fisika untuk Universitas I; Edisi keempat; Penerbit Binacipta; Bandung;       1982.                                           

 



Monday, 17 October 2016

Abstrak praktikum fisdas M10 (Gaya Sentrifugal)

A B S T R A K PRAKTIKUM FISDAS M10 (GAYA SENTRIFUGAL)



            Suatu benda yang bergerak akan mempunyai lintasan tertentu, baik lintasan yang teratur maupun lintasan yang acak atau random. Salah satu dari lintasan yang teratur adalah lintasan lengkung.  Suatu benda yang bergerak pada lintasan yang melengkung, memiliki percepatan yang dapat diuraikan menjadi komponen normal dan tangensial terhadap lintasan tersebut. Gaya normal N mempunyai komponen vertikal N sin q dan komponen horisontal N cos q serta komponen tangensial yang berupa Fr yang juga dapat diuraikan menjadi komponen vertikal dan komponen horisontalnya (namun hal ini tidak mutlak, karena tergantung pada gambar atau kejadian yang bersangkutan). Benda dengan massa m yang digerakan dengan kelajuan konstan V pada lintasan yang berbentuk lingkaran, maka benda tersebut akan mengalami gaya sentrifugal.

            Gaya sentrifugal inilah yang menyebabkan benda mengalami penyimpangan kedudukan dari keadaan mula-mula. Dalam ilmu fisika, penyimpangan ini disebut dengan defleksi (D).  Besarnya defleksi dipengaruhi oleh besaran massa (m), kecepatan (V), dan jari-jari lingkaran (R) sehingga apabila massa, kecepatan, atau jari-jari lingkaran ini berubah maka besarnya defleksi juga akan berubah.

Abstrak praktikum fisdas M10 (Gaya Sentrifugal)

Abstrak praktikum fisika dasar M8 (Gaya Benda)

ABSTRAK PRAKTIKUM FISDAS M8 (GAYA BENDA)


           
     Bila suatu gaya diberikan pada suatu benda maka benda tersebut akan berpindah dengan percepatan tertentu.  Jika gaya tersebut dihilangkan maka benda tersebut tidak lagi mengalami percepatan, melainkan bergerak dengan kecepatan tertentu.  Kecepatan inilah yang disebut dengan kecepatan sisa.  Jadi kecepatan sisa adalah kecepatan yang dialami suatu benda setelah tidak ada lagi gaya yang bekerja pada benda itu.  Kecepatan sisa ini lama-kelamaan akan hilang (berkurang) karena adanya gaya gesekan dengan permukaan bidang gerak.
      Pada percobaan ini akan dibahas mengenai kecepatan sisa dengan menggunakan benda/beban yang tergantung pada katrol dan dihubungkan dengan alat fletchers trolley.  Di dalam percobaan ini akan dihitung waktu yang diperlukan untuk menempuh suatu jarak tertentu.  Dari data tersebut maka dapat dicari kecepatan sisanya.

Abstrak praktikum fisika dasar M7 (Tegangan Permukaan zat Cair)

A B S T R A K FISDAS M7 (TEGANGAN PERMUKAAN ZAT CAIR)


            Seringkali kita temukan fenomena-fenomena yang terjadi karena adanya tegangan permukaan. Namun kita tidak sadar akan hal itu semua. Sebagai contoh laba-laba air yang terapung di atas permukaan air, mainan gelembung-gelembung sabun, dan masih banyak lagi contohnya.
            Pada percobaaan kali ini akan mencoba menghitung besarnya tegangan permukaan zat cair untuk empat macam zat cair yang berbeda, dengan menggunakan bantuan neraca pegas dan beberapa alat bantu yang lain.
            Dari percobaan yang dilakukan, tidak hanya didapatkan besarnya tegangan permukaan untuk masing-masing cairan, tetapi juga faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya tegangan permukaan pada zat cair.

Tegangan permukaan zat cair adalah salah satu sifat zat cair. Gaya ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah sifat adhesi atau kohesi zat cair tersebut. Percobaan ini dirancang untuk menentukan besarnya tegangan permukaan zat cair. Yaitu dengan memakai metode cincin tipis (logam). Pada metode ini cincin dicelupkan kedalam cairan yang berbeda-beda (alkohol, minyak tanah, oli dan aquades) setelah itu diukur besar gayanya (ketika tercelup dan sesaat setelah lepas dari permukaan cairan). Kemudian dari data-data yang telah dicatat (yaitu diameter dan perubahan gaya) dibuatlah ralat perhitungan dan diameter, grafik dan besarnya tegangan permukaan pada tiap cairan.

ABSTRAK PRAKTIKUM FISDAS M5 (GAYA GESEK)

A B S T R A K  FISDAS M5 (GAYA GESEK)



Setiap benda yang bergerak pada suatu permukaan benda lain akan mengalami suatu gaya yang arahnya berlawanan dengan arah gerak benda. Gaya inilah yang disebut “gaya gesek”. Percobaan kali ini akan membahas tentang koefesien gesek statis (ms) , koefisien gesek kinetis (mk) dan modulus elastisitas pada batang kayu. Untuk menentukan besarnya koefisien gesek statis dan kinetis kami menggunakan dua buah benda yang dihubungkan dengan katrol. Untuk mencari ms ialah dengan mengubah-ubah komposisi massa pada kedua benda tanpa menyebabkan system bergerak. Untuk mencari mk hampir sama seperti pada ms tetapi perubahan komposisi massa pada kedua benda mengakibatkan system bergerak sampai jarak yang telah ditentukan. Percepatan dapat ditentukan berdasar jarak yang ditempuh dibagi kuadrat waktu tempuhnya dan selanjutnya dapat dicari besar mk. Untuk mencari besarnya modulus elastisitas yaitu dengan cara menggantungkan sebuah beban pada setengah dan sepertiga panjang batang, dengan mengetahui berapa perubahan panjang batang, lebar, tinggi, dan pnjang batang modulus Elastisitas dapat ditentukan.

ABSTRAK PRAKTIKUM FISDAS M3 (GAYA GRAVITASI)

A B S T R A K GAYA GRAVITASI


Bila kita melepaskan atau menjatuhkan suatu benda  dari ketinggian tertentu maka benda tersebut akan mengalami gerak jatuh ke bawah. Apabila kecepatan awalnya sama dengan nol (vo=0), maka benda akan mengalami gerak jatuh bebas, dimana benda akan mempunyai percepatan konstan dan menempuh waktu  t  untuk mencapai permukaan bumi.
Semua benda yang berada di atas permukaan bumi selalu mengalami gaya gravitasi yang arahnya menuju pusat bumi. Gaya gravitasi ini mempengaruhi gerakan benda di permukaan bumi.  Dalam percobaan ini yaitu percobaan “Bola Jatuh Bebas” kita berusaha menghitung percepatan gravitasi bumi dengan gerakan bola yang jatuh dari ketinggian tertentu tanpa kecepatan awal dan menguji pengaruh massa pada percepatan gravitasi bumi.
Apabila pada benda yang jatuh bebas tidak ada gaya luar yang bekerja, maka pada setiap benda yang jatuh pada ketinggian yang sama akan memerlukan waktu yang sama pula untuk sampai di permukaan bumi, karena massa masing-masing benda tidak mempengaruhi.
Dengan mencatat berbagai ketinggian serta waktu yang diperlukan suatu benda dalam melakukan gerak jatuh bebas dan kemudian mengolah data-data tersebut maka kita akan mampu menghasilkan suatu perhitungan sebagai hasil pengukuran  yaitu besarnya percepatan gravitasi bumi. Dengan percobaan ini akan dihitung besarnya percepatan gravitasi bumi di suatu tempat.


ABSTRAK PRAKTIKUM FISIKA DASAR L2 (ELEKTROKIMIA)

A B S T R A K ELEKTROKIMIA


            Mungkin kita tidak sadar bahwa ada hubungan dan interaksi antara cabang ilmu pengetahuan alam antara lain bidang fisika dengan bidang kimia. Dalam perkembangan teknologi, ada suatu hal yang sering secara tidak sadar kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, yaitu teknologi yang berdasarkan prinsip elektrokimia.
Elektrokimia mempunyai pengertian sebagai disiplin ilmu yang mempelajari tentang perubahan energi listrik menjadi energi kimia (sel elektrolisis) maupun seperti terjadinya perubahan energi kimia menjadi energi listrik (sel galvani atau sel volta). Proses elektrolisis dalam larutan kimia terjadi karena adanya arus yang mengalir dalam larutan, kemudian energi yang dihasilkan itu menyebabkan terjadinya reaksi oksidasi-reduksi pada elektroda-elektroda secara spontan.
            Pada percobaan voltameter ini dipakai suatu larutan elektrolit sebagai konduktor. Larutan itu seperti asam-basa atau garam karena larutan-larutan tersebut mengandung ion-ion positif dan negatif dalam larutannya. Dan dalam percobaan ini digunakan CuSO4 yang bersifat garam sebagai larutan (mediator) dan sebagai  katoda maupun anodanya dipakai lempeng Cu (tembaga).
Dalam pelaksanaannya rangkaian diatas yang telah disusun sedemikian rupa  dialirkan sejumlah arus dari sumber tegangan dengan selang waktu tertentu, maka akan terjadi endapan Cu di katoda. Sehingga pada katoda terjadi penambahan massa akibat endapan yang terjadi menempel pada katoda. Dari penambahan massa katoda inilah kita kemudian melakukan perhitungan akan besarnya arus berdasarkan rumus yang ada dan kemudian dibandingkan dengan penunjukan jarum ampermeter.

 

REAKSI HALLOWEN CLOCK